Seni Mendengar

“Kebanyakan orang tidak mendengarkan dengan tujuan untuk memahami; mereka mendengarkan dengan intensi membalas ucapan si lawan bicara,” 

Berbeda dengan membaca dan menulis, kemampuan mendengarkan lebih jarang diajarkan secara khusus.

Rendahnya kemampuan mendengar sebagian orang diperparah dengan tindakan ‘koersif’ pihak-pihak berotoritas. 

“Dengarkan saya!”, 

“Perhatikan saya ketika saya sedang berbicara!”, 

“Jangan melamun!” 

Semua itu adalah bentuk-bentuk seruan yang kerap ditemukan di lingkungan sekolah, di tempat kerja, atau di rumah yang justru makin membuat orang resisten untuk mendengarkan baik-baik.

Kemampuan mendengar tak akan optimal bila seseorang datang dengan pemikiran tertutup. Keyakinan bahwa hal yang benar tidak bersifat universal dan selalu ada sudut pandang lain yang mesti dihargai.

Ketika lawan bicara usai berkisah, seseorang dapat melontarkan pertanyaan berujung terbuka alih-alih langsung menyatakan opininya. 

“Seperti apa sih, bentuknya?” 

“Bagaimana perasaan kamu setelah mengalami itu?” 

Dengan membuat tanggapan seperti ini, makin banyak informasi yang digali tentang diri seseorang. Pada akhirnya, si pendengar akan mampu mengenal lawan bicaranya lebih baik lagi dan koneksi pun di antara mereka pun potensial menguat.

Advertisements

Konspirasi Semesta

​Ketika seluruh alam semesta berkonspirasi membantu ku untuk menemukan mu

Siapakah aku waktu itu? Seorang laki-laki yang tak mengenal mu, itu saja.

Pada akhirnya tidak ada yang bisa memaksakan

Benar siapa yang memaksakan pertemuan kita ? Bukan aku atau kamu kan? Hanya sebuah kebetulan yang memaksakan. 

Karena niat yang membuat aku yakin, yakin membuat segalanya mungkin

Karena pertemuan itu, aku tak berdaya. Tembok yang begitu mudah kau robohkan dengan sikap dan senyum. Semua menjadi begitu mengerikan; memukul dan menghantam keras.

Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu.

Aku mengerti apa yang aku hadapi. Resiko sudah menjadi rutinitas ku. Lantas apa yang harus aku takut kan. Rasa sakit sudah bosan menyerang tubuh ku. 

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?

Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata

Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening, apa adanya.