Kejahatan Abad Ini

Kisah ini begitu menarik, sebuah cerita atau mitos dari sebuah kesuksesan. Kesuksesan yang menginspirasi, atau mungkin menakutkan.

Sebelum fajar menyingsing pada 26 November 1983, enam perampok menyelinap masuk ke gudang milik Brink’s-Mat di Bandara Heathrow, London, Inggris. Mereka mengikat penjaga keamanan, menyiram mereka dengan bensin dan menyalakan korek api lalu mengancam akan membakar mereka semua kecuali mereka membukakan pintu almari besi di sana. Di sana, para perampok menemukan hampir 7 ribu batang emas, berlian dan uang tunai. “Terimakasih banyak atas bantuannya. Selamat Natal,” kata salahsatu perampok ketika mereka pergi.

Media di Inggris ketika itu menyebut perampokan ini sebagai kejahatan abad ini: ‘Crime of the Century’. Apalagi belakangan sebagian besar hasil rampokan ini, termasuk hasil penjualan emas yang dicairkan, tak pernah ditemukan sampai sekarang. Kemana uang hasil rampokan itu mengalir adalah misteri yang terus menarik perhatian pemerhati dunia kejahatan di Inggris. 

Advertisements

Indonesia Menjelang Senja

Indonesia menjelang akhir 1950-an adalah Indonesia yang penuh gejolak dan goncangan. Rakyat di daerah merasa bahwa pemerintah pusat di Jakarta, sesudah Republik Indonesia Serikat dibubarkan oleh Sukarno pada 1950, tidak bekerja dengan efektif. Pembangunan stagnan. Uang lebih banyak beredar di Jawa. Persaingan di tubuh perwira dan pemimpin politik makin meruncing. Kesadaran kedaerahan dan etnis menguat dan mendorong pemberontakan di daerah.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Indonesia pernah menjadi ladang eksperimen pergantian rezim dan pembantaian massal, yang kesuksesannya kemudian ditiru oleh banyak negara lain.

Seni (itu) Perlawanan

Berkesenian adalah perlawanan. Steven Spielberg menggunakan montase ruang tiga dimensi untuk mengungkap fakta holocoust, menghisap ganja bersama Tuhan dipilih Bob Marley, tapi Jim Morisson, lewat The Doors-nya, menolak dianggap sebagai pembebas. Mereka berkarya pada masanya, dan perlawanan abadi selamanya. Seni melampaui bentuk seni itu sendiri. Ia berdiri dan menembus kehidupan sosial-ekonomi-politik.

Idealisme Itu Bernama Sepak Bola

Indonesia dengan bendera Hindia-Belanda. Mencatat rekor sebagai negara pertama di Asia yang berpartisipasi dalam Putaran Final Piala Dunia 1938. Meskipun tersingkir setelah kalah 0-6 dari Hungaria.

Indonesia dengan bendera Merah-Putih. Tampil dalam penyisihan Piala Dunia 1958. Sukses setelah melewati  Tiongkok di babak awal kualifikasi, Indonesia justru memilih kalah karena menolak bertanding melawan timnas Israel. Keputusan ini adalah buntut sikap politik Soekarno terhadap keputusan mendukung kemerdekaan negara Palestina.

Jangan Datang ke Tempat ini Move On-nya Susah

Kalimat tersebut seringkali saya baca dibeberapa postingan akun instagram. Kadang kala pada postingan tersebut foto yang dimuat memang benar juga, bikin susah buat move on dari tempat itu.

Jawaharla Nehru pun pernah mengatakan bahwa:

“We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures that we can have if only we seek them with our eyes open”

Dunia ini memang begitu indah dan tidak akan ada habisnya untuk dikunjungi dan dijelajahi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, sampai kita mati pun, baru secuil tempat saja yang bisa kita datangi. Tak terkecuali bagi Indonesia, takkan pernah habis untuk dinikmati keindahannya.

Jika ada yang mengatakan Indonesia adalah kepingan surga, bagi saya itu benar sekali. Jika Wonderfull Indonesia menjadi tagline dari pariwisata Indonesia, rasanya tidak terlalu berlebihan. Lantas apa yang bikin susah move on dari tempat-tempat di Indonesia? Semua orang sepakat jika budaya yang berdampingan dengan keindahan alam Indonesia adalah yang bikin susah move on.