Ini Bisa Aku Sebut Sebagai Takdir

If I love you, I show you I love you everyday. Little things, big things.

Jalanan malam ini begitu bersahabat. Tidak ramai, tidak begitu juga sepi. Maklumlah, sudah pukul 23.00 juga. 

“Apakah sudah mengantuk? Jika iya, peluk aku, jangan sampai kau terjatuh”, pinta ku pelan.

“Masukan saja dalam saku jaket ku jika kau merasa dingin, buat dirimu senyaman mungkin”

Ah … Dia hanya mengangguk dan semakin erat memeluk ku

Dasar, guman ku dalam batin

Hampir selalu ia seperti ini jika mengantuk. Setiap kali kita keluar hingga larut malam, entah sekedar pergi makan di luar atau seperti biasanya menikmati secangkir kopi di tempat biasa.

Apakah kau mau pulang?, aku mencoba bertanya

Jika tidak pulang lantas kita mau kemana?

Ah sial, ia justru balik bertanya 

Mungkin kita bisa berkeliling terlebih dahulu, menghabiskan malam

Ok baik lah, aku terserah pada mu saja.

Kita dipertemukan oleh sebuah ketidaksengajaan, takdir. Hampir sejak pertemuan itu terlintas beberapa pertanyaan, walaupun saat ini semua pertanyaan itu sudah terjawab.

Takdir pula yang hingga saat ini memberi ku semangat, semangat untuk kembali yakin pada diri ku sendiri. Bahwa jatuh cinta bukan lah nasib sial yang datang.

Advertisements

Kejahatan Abad Ini

Kisah ini begitu menarik, sebuah cerita atau mitos dari sebuah kesuksesan. Kesuksesan yang menginspirasi, atau mungkin menakutkan.

Sebelum fajar menyingsing pada 26 November 1983, enam perampok menyelinap masuk ke gudang milik Brink’s-Mat di Bandara Heathrow, London, Inggris. Mereka mengikat penjaga keamanan, menyiram mereka dengan bensin dan menyalakan korek api lalu mengancam akan membakar mereka semua kecuali mereka membukakan pintu almari besi di sana. Di sana, para perampok menemukan hampir 7 ribu batang emas, berlian dan uang tunai. “Terimakasih banyak atas bantuannya. Selamat Natal,” kata salahsatu perampok ketika mereka pergi.

Media di Inggris ketika itu menyebut perampokan ini sebagai kejahatan abad ini: ‘Crime of the Century’. Apalagi belakangan sebagian besar hasil rampokan ini, termasuk hasil penjualan emas yang dicairkan, tak pernah ditemukan sampai sekarang. Kemana uang hasil rampokan itu mengalir adalah misteri yang terus menarik perhatian pemerhati dunia kejahatan di Inggris. 

Mata Yang Aku Rindukan

​When a woman is talking to you, listen to what she says with her eyes.

Mendengarkan mu tak cukup dengan telinga saja, tetapi harus juga dengan melihat mata mu. Tahu kenapa?

The beauty of a woman must be seen from in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides.

Karena lewat mata mu aku tahu apa yang kau bicarakan itu adalah ketulusan. Mata mu tak akan mampu menutupinya, entah itu kejujuran dan kebohongan mu. 

Itulah mengapa aku selalu memandang mu saat kau mendengarkan ku atau kau berbicara kepada ku.

Aku yakin pada sesuatu bahwa “The beauty of a woman is not in the clothes she wears, the figure that she carries or the way she combs her hair.” Aku percaya pada mata nya. 

Jangan bertanya atau pun marah jika aku selalu memandang mu, melihat jauh kedalam mata mu. Karena kau saat ini sudah tahu alasannya.

Terlalu Bias

Malam itu begitu kelabu, bias, dan semu.

Angin begitu kencang bersaut dengan gemuruh ombak. Laut surut mengiringi gelapnya langit.

“Apa kabar mu hari ini”

“Jika saja kita bisa berada disini”

“Ah sial terlalu kias”

Sometimes the heart sees what is invisible to the eye.

Ada yang sedang merindu, terpuruk rasa sepi. 

“Bukan kah aku percuma merindukan nya, memberikan kepastian saja untuk menenangkan saja tidak, kenapa aku justru rindu pada nya.”

Immature love says: ‘I love you because I need you.’ Mature love says ‘I need you because I love you.’

Terjebak Dalam Fiksi

“Aku benci dengan pikirannya yang tertuang dalam literasi yang mampu buat aku penuh imajinasi yang tidak mungkin aku temukan dalam realita hidup”

“Aku benci dengan segala yg dipikirkan para penulis ini, dan benci sama diri sendiri, kenapa bukan aku yg punya kemampuan imajinasi ini” 

Nampak dia tidak begitu puas. Buku itu telah selesai dibaca nya, hampir 4 jilid dan masih ada beberapa jilid lagi. Tetapi seperti biasa, ia benci dengan apa yang ia baca.

“Benci seperti yang ia kata kan adalah kata lain dari apa yang ia ingin kan saat ini. Ia mungkin ingin hidup seperti tokoh fiksi si penulis menurut ku, karena rasanya tidak mungkin jika ia ingin menjadi si penulis itu. ”

“Terlalu sederhana”, imbuh ku

“Aku ingin menjadi manusia bebas seutuhnya dalam dunia karangan, menjadi tokoh aku yang hidup menurut gores pena, dan berpetualangan liar dalam alam bawah sadar si penggores pena”, aku coba menerka jalan pikiran dia dalam batin ku.

“Ah sial dia memandang ku bingung”, ucapku dalam batin.

Ada kah yang salah dengan ucapan ku barusan? Kenapa kamu malah terdiam?

“Harus ku akui, bagi ku dunia fiksi adalah sejarah dendam dan sejarah keinginan-keinginan sebagaimana para penulis jelaskan”

Senyum itu muncul dari balik jilbabnya, mungkin ia setuju dengan penjelasan ku.