Lentera Merah Yang Padam; Sjahrir & Amir

Obrolan politik seringkali memunculkan “joke”. Tanpa terkecuali joke tentang Sjahrir dan Amir. Kawan maupun lawan menyebut Sjahrir dan pengikutnya dengan kaum “sosialis kanan” atau Soska. Sementara Amir dan kelompoknya datang dari kalangan “sosialis kiri” atau Soski. 

Keduanya sama-sama Sosialis; memperjuangkan persamaan dan kesetaraan, sama-sama mengamini Revolusi Sosial; sebagai jalan membangun Indonesia yang baru, serta sama-sama membenci Feodalisme, neo-Kapitalisme dan neo-Imperialisme; meskipun berbeda jalan perjuangannya.

Pada akhirnya mereka berdua tumbang dalam panggung politik, saat dalang sedang memainkan lakon dibabak awal pertunjukkan wayang.

Begawan Ahli Waris Sjahrir (1)

Soedjatmoko lahir dengan nama Soedjatmoko Mangoendiningrat pada 10 Januari 1922. Sapaan bung Koko sudah akrab bagi mereka yang mengenal beliau. Meskipun lahir dari keluarga bangsawan yang berasal dari Sawahlunto, Sumatera Barat, bung Koko memutuskan tidak menggunakan nama Mangoendiningrat. Nama tersebut menurutnya mengingatkan akan budaya feodalisme yang telah mengakar di Indonesia.

Sepanjang kisah yang ditulis atau pun cerita tentang Bung Koko, semua orang sepakat beliau adalah seorang cendekiawan. Pemikiran beliau seputar pembebasan dan masa depan bangsa. Kepeduliannya pada keterbelakangan ekonomi, politik, kebudayaan, kemiskinan, dan pengangguran selalu dikobarkan melalui berbagai forum-forum.

Namun, secara garis besar lebih menitik beratkan pemikirannya kedalam tiga aspek yaitu mengubah persepsi bangsa dalam menghadapi berbagai persoalan, mengubah kemampuan bangsa menanggapi masalah baru, dan mengubah aturan main dalam pergulatan politik.

Bagian yang menarik dari pemikiran salah satu eksponen Partai Sosialis Indonesia ini adalah para cendekiawan harus sebagai tulang punggung kemajuan bangsa dan negara harus memposisikan diri berada di luar kepentingan politik. Hingar bingar politik hanya akan menghambat proses transformasi yang dicita-citakan bangsa dan negara ini. Bisa jadi, cita-cita sosialisme Sjahrir senada dengan pandangan bung Koko.

Uniknya bung Koko memberi jawaban atas persoalan-persoalan Indonesia tidak terbatas pada pilihan antara kapitalisme atau komunisme. Ia justru menekankan perlunya membuang ikatan dogmatisme ideologi seraya berusaha mencari jawaban-jawaban khas Indonesia yang mengakar pada kemampuan kreatif asli Indonesia. Ia meyakini bahwa inti kemerdekaan dan kebebasan Indonesia terletak pada kemungkinan maupun keharusan untuk terus meresapi, memahami dan melakukan penciptaan kembali masa silam dan budaya tradisionalnya sendiri.

Sosok cendekiawan seperti bung Koko inilah yang dibutuhkan Indonesia. Cendekiawan yang gelisah akan nasib bangsanya, yang ingin berbakti bukan dengan menyanjung, mendominasi, atau memperluas kekuasaannya, melainkan dengan mendekatkannya pada sosok pribadi bangsa yang sebenarnya.

Jangan Datang ke Tempat ini Move On-nya Susah

Kalimat tersebut seringkali saya baca dibeberapa postingan akun instagram. Kadang kala pada postingan tersebut foto yang dimuat memang benar juga, bikin susah buat move on dari tempat itu.

Jawaharla Nehru pun pernah mengatakan bahwa:

“We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures that we can have if only we seek them with our eyes open”

Dunia ini memang begitu indah dan tidak akan ada habisnya untuk dikunjungi dan dijelajahi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, sampai kita mati pun, baru secuil tempat saja yang bisa kita datangi. Tak terkecuali bagi Indonesia, takkan pernah habis untuk dinikmati keindahannya.

Jika ada yang mengatakan Indonesia adalah kepingan surga, bagi saya itu benar sekali. Jika Wonderfull Indonesia menjadi tagline dari pariwisata Indonesia, rasanya tidak terlalu berlebihan. Lantas apa yang bikin susah move on dari tempat-tempat di Indonesia? Semua orang sepakat jika budaya yang berdampingan dengan keindahan alam Indonesia adalah yang bikin susah move on.

Anak dan Petasan; (Ke)Lalai(an)kah?

Kebutuhan dasar yang penting bagi anak adalah adanya hubungan orang tua dan anak yang sehat dimana kebutuhan anak, seperti: perhatian dan kasih sayang yang continue (berulang dan intensif), perlindungan dari ancaman, dorongan untuk belajar dan berkreatifitas, serta pemenuhan kebutuhan perkembangan anak harus dipenuhi oleh orangtua.

Kegagalan dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut akan berdampak negatif pada pertumbuhan fisik serta perkembangan intelektual, mental, dan sosial anak. Karena pada dasarnya anak mencontoh tindakan dan perilaku orang dewasa disekitarnya, anak membutuhkan itu untuk membentuk karakter dan pribadinya.

Lantas bagaimanakah jika anak-anak bermain petasan?

Sedikit merujuk pada beberapa tulisan, petasan didefinisikan sebagai peledak berdaya rendah (low explosive), benda ini merupakan turunan dari bunga api. Uniknya peraturan yang mengatur peredaran dan pengawasannya diadopsi dari jaman kolonial Hindia Belanda kemudian ditetapkan sebagai Undang-Undang Darurat No. 12 Tahun 1951, yang tetap menjadi acuan saat ini.

Lantas siapakah yang lalai disini? Pemerintahkah atau orang tuakah? Kemudian bagaimana anak-anak dapat menjangkau benda tersebut, apakah si penjual adalah orang yang tidak memiliki anak atau mungkin hidup di negara antah berantah … 

Mengimajinasikan bung Karno Melalui “Imajinasi” bung Karno (sebuah catatan pendek)

SuntingCobalah mengingat kata Albert Einstein, “jika Anda menggunakan logika akan membawa dari A ke B, sementara jika menggunakan imajinasi akan membawa Anda kemana-mana”. Karena imajinasi, kita mampu menembus batasan realitas yang ada. Karena imajinasi, sesuatu yang tidak ada menjadi ada. 

Coba kita ambil salah satu imajinasi beliau dari sebuah pledoi yang dibacakan di hadapan Pengadilan Lanraad Bandung pada tahun 1930, bisa dikatakan begitu fenomenal. Pledoi tersebut berjudul: Indonesia Menggugat! Kalau bahasa Inggrisnya; Indonesia Accuses, atau Indonesie klaagt aan dalam bahasa Belanda. 

Kita setuju bukan, dari tiap kata-katanya, membakar semangat kaum pergerakan di masanya. Dari tiap kata-katanya, ada banyak kritik kepada imperialisme dan kapitalisme. Dari tiap kata-katanya, ada banyak gugatan pada usaha pengkerdilan ruang kaum pergerakan. Serta dari tiap kata-katanya, ada imajinasi-imajinasi tak terbantahkan tentang gagasan masa depan bangsa yang dijajah.

Sekarang mari kita berimajinasi, coba imajinasikan “imajinasi” bung Karno tersebut. Apa yang ada didalam pikiran anda?.

Imajinasi saya seketika tertuju pada kenyataan bahwa; bung Karno adalah ahli pidato yang piawai memainkan retorika dan mampu membakar pendengarnya. Namun bagi saya, beliau adalah seorang deklamator puisi.

“Karya Bung Karno, bukan saja berbobot politis, tetapi juga berbobot sastra,” Saat ada banyak orang terhanyut oleh pidato politik Bung Karno yang berapi-api, ada segelintir orang yang menikmatinya sebagai deklamasi puisi.

Jika puisi adalah wujud ekspresi pikiran dan batin melalui kata-kata terpilih sebagai perwakilan ungkapan makna. Maka ketika pledoi tersebut dideklamasikan sebagai puisi seketika; ketepatan pemahaman, keindahan vokal, ekspresi wajah yang kuat, dan gerak-gerik tubuh yang lebih bebas. Bagi saya ini adalah karya sastra yang sangat-sangat mengagumkan, dibacakan oleh seorang yang mengagumkan.